global.pesantren@yahoo.com

Noah, Film Penghujat Nabi Nuh

Noah-4Sabtu siang, 11 Oktober 2014 saat di Jogja, anak saya memutarkan film          berjudul Noah yang diunduhnya dari internet. Berharap menonton kisah Nabi Nuh versi terbaru, saya justru terkejut melihat tampilan pertama pakaian tokoh Lamekh, ayah Noah, Noah, orang-orang jahat keturunan Cain yang mengenakan sejenis jeans, rompi dan jaket orang modern. Saya menangkap ketidak-beresan dalam film ini.
Ternyata, kisah film Noah ini jauh sekali dari penggambaran sosok Nabi Nuh, baik dalam Bible maupun al-Qur’an karena sejumlah hal yang bertolak dari imajinasi liar penulis skenario dan sutradaranya: Darren Aronovsky. Pertama-tama, penulis skenario dan sutradara itu, memunculkan sosok Noah yang diperankan oleh Russell Crowe sebagai manusia kulit putih, mata biru, rambut pirang, padahal kalau Darren Aronovsky cerdas akan menggambarkan Noah – leluhur ras Semit – dengan wujud manusia berkulit coklat, rambut hitam, mata hitam. Pakaian Noah pun mesti sejenis jubah atau ghamis dan bukan celana jeans, kaos, jaket, dan rompi. Yang tidak masuk akal lagi, tokoh Methuselah, kakek Noah mencari buah berry yang akan menjadi penanda bagi dimulainya banjir. Darimana mitos buah berry? Buah itu tidak tumbuh di Timur Tengah tempat kediaman Nabi Nuh melainkan tumbuhan Eropa. Dongeng Yahudi pun muncul di film Noah dalam wujud Nephilim, malaikat yang dikutuk Tuhan menjadi makhluk batu karena membela manusia. Nephilim inilah yang membantu Noah membangun Kapal ukuran raksasa. Kemunculan Nephilim yang tidak ada dalam Bible, jelas mengada-ada dan bertujuan menghapus unsur mu’jizat untuk diganti  menjadi dongeng. Di sini Aronovsky kelihatan sekali terpengaruh makhluk Orc dan Troll dalam film Lord of the Ring.
Kedua, Noah dalam film itu digambarkan sebagai sosok temperamental yang pemarah dan keras kepala yang terobsesi untuk memusnahkan manusia dari muka bumi. Noah digambarkan tidak pernah menerima wahyu dari Tuhan untuk membuat kapal besar dan mengisinya dengan binatang yang berpasang-pasangan ketika Tuhan menenggelamkan manusia ke dalam air. Noah hanya menerima ‘kabar’ kebinasaan manusia itu dari cerita ayahnya, Lamekh, dan kemudian diperkuat oleh kakeknya, Methuselah, yang dalam film itu diperankan oleh Anthony Hopkins. Itu artinya, Noah tegas digambarkan bukan seorang Nabi suci yang memperoleh wahyu dari Tuhan tetapi sekedar meneruskan dongeng turun-temurun dari leluhurnya. Bahkan sampai akhir film, Noah digambarkan tidak pernah bisa berhubungan dengan Tuhan.
Noah dalam film itu digambarkan sebagai sosok manusia yang sangat membenci manusia dan memendam dendam dan kebencian terhadap keturunan Cain yang sesat turun-temurun. Dengan lantang Darren Aronovsky menempatkan pikirannya ke mulut tokoh Noah yang berkata,”Semua manusia adalah penjahat. Karena itu, Tuhan hanya ingin binatang di dalam kapal. Kita semua akan saling membunuh. Saya akan menjadi yang pertama – saya akan membunuh kalian semua. Kemudian kalian akan membunuhku, maka kita akan terkubur bersama semua orang. Setelah itu, kami kembali ke tanah lagi. Maka kalian harus membunuh diri sendiri. Aku mempercayai kalian soal itu.”
Noah-3Ungkapan Noah yang dianggap mengada-ada inilah yang dikritik keras presenter Amerika, Glenn Beck, yang menilai film itu telah menempatkan sosok Nabi Nuh yang suci dan terhormat sebagai orang gila. Beck heran, bagaimana mungkin Aronovsky menggambarkan sosok Nabi sebagai manusia pembenci manusia. Beck menyatakan, dialog dalam film itu benar-benar tidak sesuai dengan penggambaran Nabi Nuh.
Penggambaran Nabi Nuh dalam film Noah yang membenci manusia terungkap lagi dalam perintahnya sewaktu meninggalkan wasiat kepada isteri dan anak-anaknya. Tokoh Noah meyakini dengan membuta bahwa Tuhan telah berketentuan bahwa masa itu adalah masa habisnya generasi manusia. Itu sebabnya, anak-anaknya dilarang menikah dan memiliki keturunan. Bahkan anak perempuan yang dipungutnya, Ila, adalah anak yang cacat perutnya dan tidak bisa memiliki keturunan. Itu sebabnya, waktu Ila kawin dengan Shem diperbolehkan karena tidak akan memiliki keturunan. Tetapi kebencian Noah terhadap manusia ditunjukkan sewaktu Ila mengandung anak Shem, di mana Noah mengancam kalau bayi itu lahir laki-laki akan dibiarkan hidup dengan tugas akhir menguburkan bapak dan ibunya. Jika bayi itu lahir perempuan, maka harus dibunuh. Begitulah sewaktu bayi itu lahir kembar perempuan semua, Noah pun berusaha membunuh kedua bayi yang tidak lain dan tidak bukan adalah cucunya itu.
Usaha Noah membunuh kedua orang bayi yang adalah cucunya itu gagal karena ibu bayi, Ila, yang dalam film itu diperankan oleh Emma Watson, menyanyikan senandung lagu untuk menidurkan bayi sebagaimana lagu yang sama yang didendangkan saat Noah masih kecil. Noah akhirnya membiarkan kedua orang bayi itu hidup.
Russell Crowe as NoahDalam pertentangan antara kebencian terhadap manusia dan ketidak-mampuannya menjalankan tugas memusnahkan seluruh manusia dari muka bumi sebagaimana perintah Tuhan, Noah pun berubah menjadi seorang pemabuk dekil, yang saking mabuknya sampai telanjang. Dalam kebingungan tidak tahu harus melakukan apa, Ila yang adalah menantu Noah justru memberikan wejangan dan petunjuk jalan yang benar kepada Noah. Wah, ini yang Nabi itu Noah atau Ila?
Yang jauh dari gambaran Kitab Bible, bukan Noah yang mengirim burung merpati untuk melihat daratan setelah banjir, melainkan Naameh isteri Noah, yang dalam film itu diperankan oleh Jennifer Conneilly. Bahkan dalam kitab-kitab suci yang diyakini umat Islam, Kristen dan Yahudi dijelaskan bahwa kapal Nabi Nuh ini mendarat di sebuah gunung (Ararat atau Judiyyi) saat banjir telah surut, tapi dalam film Noah, kapal yang mengangkut hewan dan manusia itu mendarat di pulau karang dekat dengan pantai.
Usai menonton film Noah itu, saya mencari info tentangnya. Mafhumlah saya, kalau komunistas Yahudi dan Kristen di Arizona, USA, marah terhadap film yang diperoduksi Paramount itu. Mereka menuntut Darren Aronovsky untuk mengubah sejumlah detail film itu. Umat Kristen dan Islam di USA pun sepakat untuk mengecam film yang menghabiskan dana Rp 1,4 triliun itu. Qatar, Bahrain dan Uni Emirat Arab telah tegas melarang film itu diputar di negeri mereka. Bahkan yang salut, LSF (Lembaga Sensor Film) Indonesia tidak meloloskan film itu untuk diputar di Indonesia. Tindakan LSF itu tepat dan benar sebelum timbul kisruh jika film itu lolos sensor, karena film Noah itu pada dasarnya tidak beda dengan film Mad Max, Avatar, Aliens, Star Trek, film-film jenis thrill dan laga yang lain. Dan kepada anak saya, saya wanti-wanti untuk tidak melihat film apa pun yang dibikin oleh penulis skenario dan sutradara kafir bernama Darren Aronovsky itu, karena kekafiran imajinasinya yang menyesatkan itu bisa menular kepada anak-anak yang belum kuat pemahaman agamanya.
Posted by Agus Sunyoto

 

Leave a Reply