global.pesantren@yahoo.com

Pakarena, Tari Klasik Kesultanan Gowa

Oleh: Amatullah Inaas Azizah

Asal-Usul Tari Pakarena 

Pakkarena, South-Sulawesi  Classical Dance

Pakkarena, South-Sulawesi Classical Dance

Tari Pakarena , adalah ekspresi kesenian budaya rakyat Gowa,Sulawesi selatan, sering dipertontonkan pada acara khusus penyambutan tamu, termasuk untuk promosi wisata Sulawesi Selatan. Sejarah Tarian Pakarena berawal dari kisah mitos perpisahan penghuni boting langi (negeri kahyangan) dengan penghuni lino (bumi) zaman dulu. Sebelum detik-detik perpisahan, boting langi mengajarkan penghuni lino mengenai tata cara hidup, bercocok tanam, beternak hingga cara berburu lewat gerakan-gerakan tangan, badan dan kaki.
Gerakan-gerakan inilah yang kemudian menjadi tarian ritual saat penduduk lino menyampaikan rasa syukurnya kepada penghuni boting langi.
Sebagai seni yang berdimensi ritual, Pakarena terus hidup dan menghidupi ruang batin masyarakat Gowa dan sekitarnya.
Dalam perkembangan peradaban manusia dari masa ke masa, keadaan lingkungan alam dan lain-lain sebagainya, adalah beberapa hal yang mempengaruhi perkembangan kehidupan masyarakat dari suatu bangsa. Sebagian perkembangan ini, dapat kita temu dengan adanya tata cara hidup dalam kehidupan manusia. Demikian melalui sejarah kesenian kebudayan Sulawesi Selatan. Dewata ini, dikenal berbagai macam kesenian yang kesemuanya ini adalah merupakan satu pertanda bahwa betapa pun, masyarakat Sulawesi Selatan telah pula bangkit, atau mengikuti perkembangan dunia, lewat kesenian kebudayaannya yang mana salah satu dari sekian banyak hal yang dapat menunjang terwujudnya kemajuan bangsa. Ditinjau dari segala segi, utamanya pengaruh keadaan, lingkungan, kini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa Tari Pakarena yang pada mulanya merupakan tarian pemujaan di mana keyakinan manusia pada masa lampau bergantung kepada alam tak nyata atau alam gaib, di mana tari adalah merupakan salah satu cara untuk menyampaikan hasrat atau keinginan akan berhasilnya sesuatu yang diinginkan, persembahan seperti ini hampir sama, yakni ketika manusia masih hidup dalam kehidupan alam primitif. Bahwa pernyataan gerak adalah lambang komunikasi antar manusia, utamanya kepada Dewata atau Batara.

Pakkarena Gantarang Dance

Pakkarena Gantarang Dance

       Kemudian setelah masuknya agama Islam di daerah Sulawesi Selatan (rumpun suku yang memelihara tari Pakarena, antara lain; Gowa, Bantaeng, Jeneponto, Selayar, Takalar) menjadikan  Tari Pakarena ini sebagai tari adat, di mana tari tersebut hidup dan berkembang dalam lingkungan istana yaitu diadakan pada upacara-upacara adat. Sampai  dengan pesatnya perkembangan Kerajaan Gowa, sejak Tumanurung merajai Butta Gowa (Daerah Gowa) sampai saat pemerintahan Sultan Hasanuddin menjadi Raja Gowa tamu-tamu terhormat dan tarian ini tetap terpelihara dalam istana. Sejarah Tarian Sulawesi Selatan, yaitu Tari Pakarena dari Gowa  terciptanya menurut orang-orang tua dahulu kala, jauh sebelum agama Islam masuk di daerah Gowa, terjadilah kisah seperti ini untuk mengenakan dan mengingat-ingat orang-orang dahulu kala atau nenek moyang di mana dikatakan bahwa suatu ketika makhluk-makhluk yang ada di kahyangan dan yang berada di bumi tidak akan bertemu lagi. Oleh karena itu perlu memberikan satu petunjuk-petunjuk lagi manusia pada zaman itu dan pada zaman yang akan datang.
Manusia-manusia dikayangan mengajarkan pada penduduk bumi bagaimana caranya bekerja seperti menjaga anak, memintai benang, bersahabat, bermasyarakat dan lain-lain. Kesemuanya ini dilakukan dengan gerakan dan dengan gerakan-gerakan ini maka terciptalah tari “Tari Pakarena”.
Pakarena adalah bahasa setempat berasal dari kata Karena yang artinya main. Sementara ilmu hampa menunjukan pelakunya. Tarian ini mentradisi di kalangan masyarakat Gowa yang merupakan wilayah bekas Kerajaan Gowa.
Tari Pakarena ditarikan oleh 7 orang penari wanita dengan menggunakan pakaian adat. Dalam Pakarena Royong, setiap penari harus memanjatkan doa sebelum menari. Sambil berdoa mereka menyediakan sesajian berupa beras, kemeyan, dan lilin. Adapun pada Pakarena Bone Balla, aturan ini tidak digunakan.
Dalam tari Pakarena, gerakan lembut penari terbagi dalam 12 bagian.Setiap bagian memiliki makna. Gerakan pada posisi duduk menjadi penanda awal dan akhir tarian, gerakan berputar mengekspresikan siklus kehidupan manusia, dan
gerakan naik turun adalah cermin irama hidup.

Definisi Tari Pakarena
Kelembutan mendominasi kesan pada tarian ini. Tampak jelas menjadi cermin watak perempuan Gowa sesungguhnya yang sopan, setia, patuh dan hormat pada laki-laki terutama terhadap suami. Gerakan lembut si penari sepanjang tarian dimainkan, tak urung menyulitkan buat masyarakat awam untuk membedakan babak demi babak.Padahal tarian ini terbagi dalam 12 bagian. Gerakan yang sama, nyaris terangkai sejak tarian bermula. Pola gerakan yang cenderung mirip dilakukan dalam setiap bagian tarian. Sesungguhnya pola-pola ini memiliki makna khusus.Gerakan pada posisi duduk, menjadi pertanda awal dan akhir Tarian Pakarena. Gerakan berputar mengikuti arah jarum jam menunjukkan siklus kehidupan manusia.

Pakkarena ritual dance

Pakkarena ritual dance

Sementara gerakan naik turun, tak ubahnya cermin irama kehidupan.Aturan mainnya, seorang penari Pakarena tidak diperkenankan membuka matanya terlalu lebar.Demikian pula dengan gerakan kaki, tidak boleh diangkat terlalu tinggi.Hal ini berlaku sepanjang tarian berlangsung yang memakan waktu sekitar dua jam. Penari Pakarena, begitu lembut menggerakan anggota tubuhnya. Sebuah cerminan wanita Sulawesi Selatan. Sementara iringan tetabuhan yang disebut Gandrang Pakarena, seolah mengalir sendiri. Hentakannya yang bergemuruh, selintas tak seiring dengan gerakan penari. Gandrang Pakarena, adalah tampilan kaum pria Sulawesi Selatan yang keras.
Tarian Pakarena dan musik pengiringnya bak angin kencang dan gelombang badai. Terang musik Gandrang Pakarena bukan hanya sekedar pengiring tarian,ia juga sebagai penghibur bagi penonton. Suara hentakan lewat empat Gandrang atau gendang yang ditabuh bertalu-talu ditimpahi tiupan tuip-tuip atau seruling, para pasrak atau bambu belah dan gong, begitu menggoda .
Komposisi dari sejumlah alat musik tradisional yang biasanya dimainkan 7 orang ini, dikenal dengan sebutan Gondrong Rinci. Pemain Gandrang sangat berperan besar dalam musik ini.Irama musik yang dimainkan sepenuhnya bergantung pada pukulan Gandrang.Karena itu, seorang pemain Gandrang harus sadar bahwa ia adalah pemimpin dan ia paham akan jenis gerakan Tari Pakarena.
Biasanya selain jenis pukulan untuk menjadi tanda irama musik bagi pemain lainnya, seorang penabuh Gandrang juga mengerakan tubuh terutama kepalanya. Ada dua jenis pukulan yang dikenal dalam petabuhan Gandrang. Yang pertama adalah pukulan Gundrung yaitu pukulan Gandrang dengan menggunakan stik atau bambawa yang terbuat dari tanduk kerbau. Yang kedua adalah pukulan tumbu yang dipukul hanya dengan tangan. Gemuruh suara yang terdengar dari sejumlah alat musik tradisional Sulawesi Selatan ini, begitu berpengaruh kepada penonton. Mereka begitu bersemangat, seakan tak ingat lagi waktu pertunjukan yang biasanya berlangsung semalam suntuk. Semangat ini pula yang membuat para pemain musiknya semakin menjadi. Waktu bergulir, hentakan Gandrang Pakarena terus terdengar.
Tari ini sangat enerjik, terkadang juga begitu hingar bingar oleh musik, namun diiringi oleh tarian yang sangat lambat lemah gemulai dari para wanita muda. Dua kepala drum (gandrang) dan sepasang instrument alat semacam suling (puik-puik) mengiringi dua penari. Kelembutan mendominasi kesan pada tarian ini. Tampak jelas menjadi cermin watak perempuan Gowa sesungguhnya yang sopan, setia, patuh dan hormat pada laki-laki terutama terhadap suami.
Dominasi gerakan yang lembut itu sering membuat masyarakat awam sulit untuk membedakan babak demi babak dari Tari Pakarena, di mana  tarian ini terbagi dalam 12 bagian. Gerakan yang sama, nyaris terangkai sejak tarian bermula. Pola gerakan yang cenderung mirip dilakukan dalam setiap bagian tarian.
Sesungguhnya pola-pola ini memiliki makna khusus.Gerakan pada posisi duduk, menjadi pertanda awal dan akhir Tarian Pakarena.Gerakan berputar mengikuti arah jarum jam.Menunjukkan siklus kehidupan manusia.
Sementara gerakan naik turun, tak ubahnya cermin irama kehidupan. Aturan mainnya, seorang penari Pakarena tidak diperkenankan membuka matanya terlalu lebar. Demikian pula dengan gerakan kaki, tidak boleh diangkat terlalu tinggi. Hal ini berlaku sepanjang tarian berlangsung yang memakan waktu sekitar dua jam.

Oldest Dancer of Classical Pakkarena

Oldest Dancer of Classical Pakkarena

  Dengan aturan yang ketat itu, tidak salah kalau seorang penari Pakarena harus mempersiapkan dirinya dengan prima, baik fisik maupun mental. Gerakan monoton dan melelahkan dalam Tari Pakarena, sedikit banyak menyebabkan kaum perempuan di Sulawesi Selatan, tak begitu berminat menarikannya.
Kalaupun banyak yang belajar sejak anak-anak, tidak sedikit pula yang kemudian enggan melanjutkannya saat memasuki jenjang pernikahan. Namun tidak demikian halnya seorang Mak Joppong. Perempuan tua yang kini usianya memasuki 80 tahun ini, adalah seorang pelestari tari klasik Pakarena. Ia seorang maestro tari khas Sulawesi Selatan ini. Ia seorang empu Pakarena. Mak Joppong sampai sekarang masih bersedia memenuhi undangan. Untuk tampil menarikan Pakarena yang digelutinya sejak usia 10 tahun ini.  Disebut-sebut, perempuan inilah yang mampu menarikan Pakarena dengan utuh, lengkap dengan kesakralannya sebagai sebuah tarian yang menggambarkan kelembutan perempuan Gowa.

Macam Gerakan Tari Pakarena
Macam-macam gerakan Tari Pakarena (dengan makna yang dikandung) ini adalah sebagai berikut:
•Sambori’na (berteman)
•Ma’biring kassi’ (bermain ditepi pantai)
•Anging kamalino (angin tanpa berhembus)
•Digandang (berulang-ulang)
•Jangan lea-lea (ayam yang mundur-mundur sementara berkelahi)
•Iyale’ (sebelum menyanyi ada seperti aba-aba) nyanyian tengah malam
•So’naya (yang bermimpi)
•Lambbasari (hati timur)

Perkembangan Tari Pakarena
Belakangan ini tangan-tangan seniman kota dan birokrat pemerintah daerah (pemda) telah menyulap Pakarena menjadi industri pariwisata. Dengan bantuan  seniman standar estetika diciptakan melalui sanggar-sanggar agar bisa dinikmati orang luar untuk mendongkrak pendapatan daerah alasannya. Sebagian seniman mengikuti standar resmi dan memperoleh fasilitas dari pemda. Tapi sebagian seniman lain enggan mengikuti karena dianggap tidak sesuai tradisi adat setempat, meski menanggung resiko tidak memperoleh dana pembinaan pemda atau tidak diundang dalam pertunjukan-pertunjukan.
Daeng Mile (50 tahun), misalnya, adalah seniman Pakarena asal desa Kalase’rena, Kec.Baranglompo,  tergolong seniman yang teguh pendirian. Ia biasanya mencari berbagai cara untuk berkelit agar tidak menghadiri undangan departemen pariwisata. Kadang beralasan sedang ada acara ritual sendiri di kampungnya atau menghadiri sunatan dan pengantin tetangganya, atau kalau pun tidak bisa menolak maka ia akan menuntut syarat agar teman-temannya tidak terlantar usai pertunjukan.
Cara lain yang agak berbeda ditunjukkan Sirajuddin Bantam. Anrong guru Pakarena dari Gowa ini terang-terangan menolak tampil jika ada pejabat yang mau mendikte tampilan penarinya. Bahkan saat diminta tampil, ia tidak segan mempertanyakan lebih dulu keperluan pertunjukan itu dan sejauh mana menguntungkan teman-temannya. Karena ia tahu ada jenis tarian yang bisa dipertontonkan dan tarian  mana yang hanya bisa tampil di acara-acara tertentu. Sirajuddin juga kadang menyiasati  pejabat yang menuntut tampilan tertentu dengan tiba-tiba mengubah sendiri skenario tarian di atas panggung.
Sikap yang ditempuh para seniman ini memang bukan tanpa resiko. Mereka harus merawat tradisi Pakarena dengan hidup pas-pasan tanpa bantuan pemerintah. Hanya dengan kreatifitas saja mereka bisa bersaing dengan seniman kota yang menikmati fasilitas dan kesejahteraan jauh di atas rata-rata.
Kecerdikan ini misalnya dipunyai Sirajuddin dan Daeng Mile. Sirajuddin mendokumentasikan sendiri tarian Pakarena dan lalu memperkenalkannya ke publik sampai mancanegara. Tentu saja dia dan para seniman kampung yang bersamanya juga mengkreasi Pakarena ini. Tapi ia sungguh menyadari mana tarian yang bisa dikreasi dan mana yang tidak. “Royong yang biasa dipakai ritual, tak perlu ditampilkan. Hanya Pakarena Bone Balla yang ditampilkan,” ujar pemilik sanggar tari Sirajuddin ini, sembari menjelaskan bahwa Bone Balla biasa dipertontonkan kerajaan untuk menyambut para tamu sehingga boleh dilihat umum.
Sementara itu, Daeng Mile yang juga pemilik sanggar Tabbing Sualia lebih memilih tampil sendiri tanpa bergantung kepada pemda. Paling banter dia dan kelompoknya hanya mau tampil bila bekerja sama dengan LSM tertentu yang peduli terhadap kesenian rakyat. ”Selama ini saya lebih suka main dengan Latar Nusa ketika mau menampilkan kesenian Pakarena di dalam dan di luar negeri,” kata Daeng Mile menyebut nama LSM itu.
Begitulah, rupanya kaum seniman memiliki pengertian beda mengenai Pakarena. Orang macam Dg Mile dan Sirajuddin menyadari, Pakarena yang ”dipasarkan” pemda selama ini cenderung terpisah dari kehidupan, tradisi, dan makna yang diimajinasikan komunitas. Proses itu hanya menguntungkan seniman kelas menengah di kota dan kepentingan tertentu di pemerintahan. Seperti keinginan pemda mengubah pakaian penari tradisi di Sulawesi Selatan agar sesuai dengan norma agama tertentu. Jelas ini melahirkan kerisauan para seniman. Daeng Mile sampai-sampai menjelaskan berulangkali kalau Pakarena tidaklah syirik karena ditujukan kepada Yang Maha Kuasa. Sirajuddin pun meminta agar para agamawan tidak menggunakan syariat yang formalis saja dalam menilai kesenian, tapi menggunakan hakikat atau tarekat.“Jika pemahaman mereka benar, tidak ada kesenian kita yang bertentangan dengan agama,” ujar Sirajuddin, sambil mencontohkan istilah passili dalam Pakarena yang berarti memerciki para seniman dan peralatannya dengan sejumput air agar membawa keberuntungan, selaras dengan agama.”Lalu mana lagi yang harus diberi warna atau nuansa agama,” kata Sirajuddin mengakhiri argumentasinya.
Sementara tari tradisi dituding syirik dan harus dilarang, seni Arab seperti Jafin, hadrah, samroh, gambus, dan berbagai seni berbasis musik  rebana dikembangkan sebagai seni Islami. Ini semua jelas merupakan Arabisasi dan sekali-kali bukan mewakili Islam seutuhnya, karena Islam tidak identik dengan Arab.
Kalau sudah begini, soalnya menjadi tergantung siapa yang menafsir. Kebenaran  kembali ada dalam keyakinan para penghayatnya. Bukan elit agama atau birokrasi yang kerap memonopoli makna kebenaran.
Sikap batinnya hening, penuh kelembutan, dedikatif, itulah kesan yang tersirat dari gemulainya gerakan penari ini.Tari Pakarena yang dibawakan penari ini adalah tarian kas masyarakat Sulawesi Selatan.Setiap penari harus melakukan upacara ritual adat yang disebut jajatang, dengan sesajian berupa beras, kemeyan dan lilin. Ini dimaksudkan untuk memperoleh kelancaran sepanjang pertunjukan berlangsung.
Pakarena adalah bahasa setempat berasal dari kata Karena yang artinya main.  Tarian ini mentradisi di kalangan masyarakat Gowa yang merupakan wilayah bekas Kerajaan Gowa. Tarian ini dulunya, adalah tarian yang ditampilkan pada upacara-upacara kerajaan. Tari Pakarena ini dipertunjukkan di Istana. Namun dalam perkembangannya, Tari Pakarena ini lebih memasyarakat di kalangan rakyat. Bagi masyarakat Gowa, keberadaan Tari Pakarena tidak bisa dilepaskan dari kehidupan mereka sehari-hari.
Amatullah Inaas Azizah, mahasiswi Program studi Sastra Cina FIB Universitas Brawijaya

Leave a Reply