global.pesantren@yahoo.com

Wayang Bali dan Macam Ragamnya

Oleh: Nella Faulina RF

Latar Belakang
Pertunjukan Wayang Kulit yang merupakan salah satu seni budaya nasional Indonesia dikenal sebagai seni tradisional adiluhung multi medium. Khususnya wayang kulit di Jawa
dan Bali, keberadaannya masih banyak digemari oleh masyarakat pendukungnya. Seni pewayangan kedua daerah ini erat kaitannya dengan kehidupan adat dan keagamaan.

Bali's Puppets Shadow

Bali’s Puppets Shadow

Dalam perkembangannya wayang kulit Jawa sekarang fungsinya sudah sedikit mulai bergeser ke arah hiburan. Lain halnya dengan seni pertunjukan wayang Bali yang pada fungsinya masih dialokasikan pada kepentingan relegius dan upacara adat. Walaupun dalam perkembangan sekarang ada beberapa dalang yang mencoba mengkemas pertunjukan wayang Bali ke arah hiburan.
Gejala ini menunjukkan bahwa pertunjukan wayang Jawa dan Bali memiliki beberapa persamaan maupun perbedaan yang menarik untuk dikaji. Komponen-komponen yang banyak menunjukkan persamaan terutama muncul dalam penggunaan lakon, teknik pertunjukan, dan fungsi pertunjukan.
Baik di Jawa maupun di Bali pertunjukan wayang kulit sama-sama didominasi oleh penggunaan lakon Mahabrata, yakni lakon yang sejak lama telah dikenal baik di kedua pulau ini. Dari segi teknik penyajian pertunjukan wayang kulit Jawa dan Bali merupakan sebuah drama atau pertunjukan teater bayang-bayang yang sama-sama memakai ciri khas yang esensial. Seorang dalang memainkan figur boneka wayang kulit di depan selembar layar putih yang lebar, dan pada waktu yang bersamaan melagukan dan mengucapkan dialog dan narasi diiringi dengan musik gamelan. Lakon-lakon yang mendominasi dunia pewayangan di kedua daerah ini sama-sama bersumber pada epos Mahabarata dan Ramayana. Dari segi fungsi pertunjukan, wayang kulit Jawa dan Bali sama-sama terkait dengan kepentingan adat, sosial, ritual, dan kepercayaan. Dari segi bahasa, wayang kulit Jawa dan Bali juga samasama menggunakan bahasa kawi arkais ataupun bahasa jawa kuno. Baik itu yang terdapat pada narasi, dialog dan pada lirik-lirik lagu/vokal.

Dengan adanya persamaan dan perbedaan dari dua gaya pertunjukan wayang yang berlainan ini, sangat memungkinkan untuk digabungkan dalam sebuah pertunjukan. Karena kedua gaya  ini memiliki ciri khas pertunjukan yang unik dan menarik. Pertunjukan wayang Jawa memiliki sajian yang atraktif dari teknik gerak-gerak dinamis  wayangnya, sedangkan  wayang Bali memiliki kekhasan dalam hal tutur dan fungsi panakawan sebagai penterjemah.

Sejarah perkembangan wayang kulit Bali
Cikal bakal wayang Kulit sudah ada di Jawa kurang lebih 1500 SM. Pertunjukkan wayang tersebut masih primitif dengan latar belakang ritual, yaitu kepercayaan kepada kekuatan roh-roh leluhur. Roh-roh akan menampakkan diri dalam bentuk bayang-bayang. Untuk itu, orang membuat obyek gambaran yang membentuk bayangan di atas sehelai kelir.
Pertunjukkan wayang sudah ada di Jawa dapat dibuktikan dalam batu bertulis yang terdapat di Jawa pada 800 M, yang bertuliskan kata “aringgit” yang berarti pertunjukkan wayang. Dalam catatan tertulis lainnya, yaitu pada jaman Diah Balitung terdapat prasasti yang berangka tahun 907 M menuliskan istilah “mawayang” yang berarti pertunjukkan wayang. Sedangkan adanya wayang di Bali ditemukan berdasarkan atas prasasti Bebetin pada 890 M pada masa pemerintahan Raja Ugrasena.
Wayang kulit di Bali merupakan prototipe wayang Jawa. Hal ini dibuktikan bahwa wayang kulit Bali tidak mempunyai bentuk yang meruncing karena distilir seperti yang terdapat pada wayang Jawa. Bentuk wayang kulit Bali kokoh dan kasar mirip dengan lukisan pada piala-piala zodiak perunggu yang didapatkan di Jawa Timur pada abad 13. Demikian juga sikap dan bentuk yang tegak lurus tampaknya mirip dengan relief pada candi Jago dekat Tumpang, Malang, yang berasal pada pertengahan abad 13. Wayang kulit Bali juga mirip dengan gambar-gambar relief di Candi Penataran, Blitar yang dibangun pada abad 14 M.
Pada abad 4 Bangsa Hindu sekte Syiwa datang ke Indonesia. Bangsa Hindu yang datang kemudian adalah yang beragama Buddha Mahayana. Kebudayaan yang dibawa berkembang di Indonesia sehingga terjadi akulturasi budaya dari kedua bangsa. Proses akulturasi tersebut membawa dampak pada perubahan aspek-aspek kehidupan. Termasuk di dalamnya perubahan seni pewayangan, antara lain dari lukisan yang sederhana menjadi bentuk yang sekarang ini. Penggunaan cerita juga mengalami perubahan, dari cerita yang menggambarkan kebesaran-kebesaran leluhur diganti dengan cerita yang diambil dalam epos Ramayana dan Mahabarata.
Pada tahun 1400 M kerajaan Bali merupakan kerajaan yang berdiri sendiri, lepas dari kekuasan Majapahit di Jawa. Pada waktu itu, budaya di Bali mendapat pengaruh kuat dari budaya Hindu dan Hindu-Jawa masih kuat juga akar pengaruh kepercayaan Kapitayan, sampai dengan datangnya pemerintah Belanda, sehingga bias dikata Bali selama lebih kurang 500 tahun tanpa pengaruh luar (Barat). Akibatnya, di Bali muncul kebudayaan pulau yang unik, terpisah dan berkembang Jawa yang sejak abad ke-17 sudah terpengaruh Belanda dan bahkan sejak abad ke-16 terpengaruh Islam. Hal tersebut menyebabkan wayang kulit Bali tidak mengalami perubahan seperti yang terjadi pada wayang kulit Jawa. Wayang kulit Bali tetap seperti yang terpahat pada patung-patung candi-candi di Jawa Timur pada abad 13 sampai dengan 15.

dhalang Wayang Bali

dhalang Wayang Bali

     Berdasarkan sejarah wayang kulit di Jawa dan di Bali menunjukkan bahwa masyarakat Bali adalah masyarakat terbuka, toleran dan adaptif. Sikap itu masih tetap terpelihara hingga kini. Dengan sikapnya yang terbuka masyarakat Bali tetap berpegang pada akar kepribadiannya sendiri. Dalam wayang kulit Parwa akar kepribadian itu terlihat dari sifat ritual sebagai transformasi pemujaan roh leluhur pada jaman dulu. Sejak semula wayang merupakan ritus sakral sebagai media komunikasi dalam pemujaan roh leluhur. Wayang kulit Bali tetap berkembang atas kesakralannya dalam proses akulturasi budaya Hindu dan Jawa-Hindhu.

Macam Ragam wayang kulit Bali.
1.Wayang Kulit Purwa
Seni pertunjukkan wayang Parwa terkait erat dengan upacara agama Hindu di Bali. Hal ini menunjukkan bahwa seni bagi masyarakat tidak berjalan linear bahwa seni adalah seni. Konsepsi ini seringkali mengabaikan persoalan nilai dalam seni. Dalam wayang Parwa memperlihatkan agama dan seni menyatu, disamping filsafat dan pengetahuan bersama-sama membentuk totalitas kehidupan masyarakat Bali. Senada dengan pendapat I Wayan Diya, seorang Mangku Dalang, ia mengatakan bahwa budaya dan agama menyatu dalam masyarakat Bali.
Ritus pada wayang Parwa merupakan persembahan kepada Yang Maha Kuasa. Persembahan mengandung nilai pengorbanan, keikhlasan serta semangat yang tidak berhenti dalam upacara tetapi mengalir meresap dalam dinamika kehidupan masyarakat sehari-hari. Tidak jarang untuk sebuah upacara membutuhkan pengorbanan finansial yang cukup besar. Dalam pandangan materialisme pengorbanan ini merupakan tindakan yang sia-sia, memboroskan dan tidak produktif. Namun, jika dipandang sebagai pemenuhan sifat kodrat sebagai makhluk Tuhan maka pengorbanan ini semakin mengangkat derajat kemanusiaan.
Upacara Hindu-Bali yang umum disertai pertunjukkan wayang antara lain: Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya, Resi Yadnya, dan Bhuta Yadnya. Dewa Yadnya adalah pengorbanan yang ikhlas dan tulus suci ke hadapan Sang Hyang Widdhi dengan jalan cinta bakti, sujud memuja serta mengikuti segala ajaran-ajaran sucinya. Phitra Yadnya adalah pengorbanan yang ikhlas dan tulus suci kepada leluhur dengan memujakan keselamatan di akhirat serta memelihara keturunannya serta mentaati segala tuntunannya. Manusia Yadnya adalah korban suci dan tulus ikhlas untuk keselamatan keturunan serta kesejahteraan manusia lain dengan dana serta usaha untuk kesejahteraan masyarakat. Resi Yadnya adalah pengorbanan yang ikhlas dan tulus suci untuk kesejahteraan para resi serta mengamalkan ajarannya. Bhuta Yadnya adalah korban suci yang tulus ikhlas kepada sekalian makhuk bawahan yang kelihatan dan yang tidak untuk memelihara kesejahteraan alam semesta.
Pertunjukkan wayang yang digelar dalam rangka ritus adalah wayang Lemah, wayang Peteng, wayang Sudamala, dan khusus wayang Sapuleger untuk meruwat orang yang dilahirkan pada Wuku Wayang.

Punakawan Wayang Bali

Punakawan Wayang Bali

Seni wayang Parwa dari sudut religi memperlihatkan keterkaitan ekstensi nilai mendalam, Tuhan, manusia dan makhluk selain manusia. Keterkaitan itu membentuk sebuah pandangan yang bersifat organik holistik sebagai warisan kemanusiaan yang tersembunyi di dalam wayang.
Di antara lakon-lakon yang umum dipakai, yang diambil dari kisah perang Bharatayudha adalah:
•Gugurnya Bisma
•Gugurnya Drona
•Gugurnya Abhimanyu / Abimanyu
•Gugurnya Karna
•Gugurnya Salya
•Gugurnya Jayadrata
Lakon – lakon terkenal sebelum Bharatayudha misalnya:
oSayembara Dewi Amba
oPendawa – Korawa Aguru
oPendawa – Korawa Berjudi
oSayembara Drupadi
oLahirnya Gatotkaca
oAswameda Yadnya
oKresna Duta
oMatinya Supala
Wayang Parwa biasanya didukung oleh sekitar 7 orang yang terdiri dari 1 orang dalang, 2 orang pembantu dalang, 4 orang penabuh gender wayang (yang memainkan sepasang pemade dan sepasang kantilan). Durasi pementasannya lebih panjang daripada Wayang lemah yakni berkisar antara 3 sampai 4 jam.

2.Wayang Kulit Lemah
Kesenian Wayang Lemah, sesuai dengan namanya (dalam bahasa Bali, salah satu pengertian “lemah” adalah siang hari karena lebih sering dipentaskan pada siang hari atau ketika matahari terbit dan sebelum matahari terbenam.
Dalam pertunjukan Wayang Lemah, tidak diperlukan panggung khusus. Cukup beralaskan tikar, menggunakan satu gadebog (batang pohon pisang) yang masing-masing ujungnya ditancapkan batang kayu dadap. Kedua kayu tersebut dihubungkan dengan benang putih yang disebut benang tukelan atau di beberapa atempat disebut benang pipis. Tidak perlu memasang kelir (layar) karena benang tukelan itu digunakan untuk menyandarkan wayang, penggati kelir. Di masing-masing ujung benang, digantunglah pis bolong satakan (uang kepeng berjumlah 200 keping) atau ada pula yang menggunakan 11 kepeng. Oleh karena pertunjukannya berlangsung di siang hari dan tanpa kelir, maka tidak diperlukan lampu blencong atau alat penerangan lainnya. Namun di Daerah Buleleng, ada dalang memakai lampu blencong dalam pertunjukan Wayang Lemah. Di Tabanan, selain ada yang memakai lampu blencong, juga juga dalang memakai lampu sentir atau pelita. Namun lampu itu dibuat dari kulit telu rsebagai tempat bahan bakar minyak kelapa, serta sumbunya dibuat dari sigi kompor minyak tanah atau benang tukelan.
Pertunjukan Wayang Lemah, oleh karena dinilai sederhana, sering dipentaskan dengan jumlah anggota sekaa (geoup) yang minim, misalnya diriingi gamelan gender satu pasang, dan dalang tidak memerlukan katengkong (pembatu dalang saat pertunjukan) sehingga jumlahnya hanya tiga orang (termasuk dalang). Namun dalam berbagai pertimbangan, ada juga dalang menggunakan dua pasang gender wayang dan dua katengkong sehingga jumlah personil yang diperlukan termasuk dalang adalah tujuh orang. Meskipun bentuknya sangat sederhana, Wayang Lemah diposisikan sangat penting sehingga sering disebut wayang wali yaitu kesenian sakral yang menyertai upacara keagamaan. Wayang Lemah adalah salah satu tiga macam
wayang yang disakralkan di Bali. Tiga wayang sakral dimaksud adalah Wayang Sapu Leger, Wayang Suddhamala dan Wayang Lemah.

Wayang Bali Arjuna dan Keishna

Wayang Bali Arjuna dan Keishna

  Meskipun dinilai penting, tetapi Wayang Lemah seringkali kurang mendapat perhatian penonton. Mangku Dalang yang sudah melakukan  pertunjukan dengan mengerahkan tenaga dan ilmu pengetahuannya dalam menyampaikan pesanpesan, seringkali sirna begitu saja. Salah satu penyebabnya, mungkin karena pertunjukan Wayang Lemah berbarengan dengan pementasan topeng yang menggunakan gamelan lebih besar, sehingga, suara dalang menjadi tenggelam.
Dalam tradisi berkesenian di Bali, sebelum pertunjukan dimulai pelaku seni selalu mengucapkan doa-doa agar pementasannya lancar dan sukses. Doa tersebut sudah tentu disertai sesajen atau banten persembahan. Bentuk sesajen tersebut tentu saja berbeda-beda untuk setiap dalang. Namun biasanya, sesajen pokok yang digunakan adalah suci asoroh dengan guling itik, ajuman putih kuning, canang gantal, lenga –wangi buratwangi, Daksina Gede serba empat,sarma 8100 kepeng, Segehan Gede, Pedupaan dan tetabuhan arak berem.
Cerita lakon yang digunakan dalang biasanya diambil dari Itihasa (Ramayana dan Mahabharata) dan disesuaikan dengan jenis upacara. Jika pertunjukan itu dilakukan pada upacara Dewa Yajña, maka lakon cerita diambil dari kisah yang menceritakan upacara, misalnya Kunti Yajña. Jika pertunjukan dilangsungkan pada upacara Bhuta Yajña, maka lakon ceritanya Bima Dadi Caru, yaitu cerita ketika Bhima mengorbankan dirinya sebagai caru kepada Raksasa Baka. Jika pertunjukan berlansung pada upacara Pitra Yajña, maka lakon yang digunakan adalah Bima Swarga atau cerita lain yang mengisahkan perjalanan roh ke sorga. Jika pertunjukan itu diadakan pada Upacara Manusa Yajña, maka lakon yang digunakan dalang adalah crita yang mengisahkan perkawinan, misalnya Perkawinan Arjuna-Subadra, atau Perkawinan Abimanyu-Uttari. Cerita tersebut dikemas sedemikian rupa, disesuaikan dengan durasi upacara. Biasanya, pertunjukan Wayang Lemah dimulai berbarengan dengan diawalinya pemujaan oleh Pandita. Demikian pula berakhirnya pertunjukan jika pandita sudah mengakhiri pemujaan.
Dengan demikian, jika pemujaan Pandita berlangsung lama, maka pertunjukan Wayang Lemah juga berlangsung lama
atau sekitar dua jam. Demikian pula sebaliknya, pertunjukan wayang bisa pendek, bisa 30 menit jika durasi pemujaan pandita berlangsung pendek.

3.Wayang Kulit Calon Arang   
Wayang Calon arang juga sering disebut sebagai Wayang Leyak, adalah salah satu jenis wayang kulit Bali yang dianggap angker karena dalam pertunjukannya banyak mengungkapkan nilai-nilai magis dan rahasia pangiwa dan panengen. Wayang ini pada dasarnya adalah pertunjukan wayang yang mengkhususkan lakon-lakon dari ceritera Calonarang. Sebagai suatu bentuk seni perwayangan yang dipentaskan sebagai seni hiburan, wayang Calonarang masih tetap berpegang pada pola serta struktur pementasan wayang kulittradisional Bali (Wayang parwa).
Pagelaran wayang kulit Calon arang melibatkan sekitar 12 orang pemain yang terdiri dari 1 orang dalang, 2 orang pembantu dalang, 9 orang penabuh.
Di antara lakon-lakon yang biasa dibawakan dalam pementasan wayang Calonarang ini adalah:
•Katundung Ratnamangali
•Bahula Duta
•Pangesengan Beringin
Kekhasan pertunjukan wayang Calonarang terletak pada tarian sisiya-nya dengan teknik permainan ngalinting dan adegan ngundang-ngundang di mana sang dalang membeberkan atau menyebutkan nama-nama mereka yang mempraktekkan pangiwa. Hingga kini wayang Calonarang masih ada di beberapa Kabupaten di Bali walaupun popularitasnya masih di bawah wayang Parwa.

Perbedaan antara wayang kulit Bali dan wayang kulit Jawa
Kemasan pertunjukan wayang kulit Bali dan Jawa itu beda. Wayang kulit Bali yang ditonton adalah bayangannya. Wayang kulit Jawa yang ditonton adalah proses adanya bayangan itu. Jadi dalang, pesinden, penabuh, lampu, jejeran wayang, cara Ki Dalang memainkan wayang, semuanya diperlihatkan. Dalam konsep pertunjukan wayang kulit Jawa sangat memungkinkan mengadakan ekspoitasi pertunjukan. Belum lagi beda peranan para punakawan. Punakawan wayang kulit versi Bali (Malen, Delem, Merdah, Sangut) hanya berfungsi sebagai penerjemah, dan kalau kita melihat pertunjukan Ki Dalang dari Buleleng, punakawan ini bertambah banyak karena setiap kesatria didampingi punakawan. Sementara wayang kulit versi Jawa, punakawan di sana (Semar, Gareng, Petruk, Bagong) adalah bagian dari tokoh itu sendiri, bahkan Semar disebut titisan Bethara Guru.
Kemasan, bagaimana pun, pada akhirnya adalah pemikat utama yang mengantarkan sebuah ide yang bernama cerita. Jarang sekali seniman Bali yang melirik cara-cara mengemas pertunjukan dengan memanfaatkan teknologi moderen, misalnya, ketika berhadapan dengan bentuk pertunjukan khas televisi. Lihat saja drama gong ketika tampil di televisi. Sama sekali tak ada celah-celah untuk mengeksploitasi berbagai kemungkinan yang disediakan oleh televisi. Tetap saja mereka bermain di panggung dan mengabaikan kamera. Padahal semestinya, mereka tahu ada kamera dan mereka tahu akan disiarkan suatu saat oleh televisi. Bandingkan dengan Ketoprak Humor, yang meskipun bermain di panggung yang penontonnya betul-betul ada (dan bukan penonton pajangan), mereka sadar betul acaranya suatu ketika disiarkan televisi. Panggung, kostum, tata rias, adegan, semuanya diatur dengan memperhitungkan sudut-sudut kamera.

Nella Faulina RF, mahasiswi Program Studi Sastra Cina Fakultas Ilmu Budaya  Universitas Brawijaya

Leave a Reply